ARTICLE AD BOX
Prosesi ngaben yang digelar pada rahina Buda Pon Tolu, Rabu (12/3) siang ini pun viral di media sosial (Medsos). Selain membakar dua unit mobil baru dalam upacara ngaben Jro Mangku Nengah Setar, juga dikabarkan ikut dibakar emas dan berlian. Hal itu merupakan wasiat yang disampaikan almarhum kepada keluarganya semasih hidup. Ribuan warga tampak mengikuti prosesi pengabenan.
Prosesi upacara ngaben Mangku Nengah Setar sudah dimulai sejak, Rabu pagi. Tampak mobil pick up berwarna putih, sudah berada di Setra Desa Adat Sebunibus. Sementara itu, petulangan lembu putih dan bade tumpang 7 ditempatkan di areal setra. Sawa dibawa dari rumah duka ke setra yang berjarak sekitar 3 Km dengan cara diusung. Setelah dekat setra baru dinaikkan ke atas bade, lanjut dibawa ke setra. Mobil yang dibakar dua unit, jenis pick up warna putih, satu di lembu dan satunya lagi di bade. Petualangan lembu dan sawa ditempatkan di atas mobil tersebut, bale tanah diletakkan di atas mobil pick up.
Petulangan langsung dibakar disusul pembakaran mobil, emas dan berlian. Setelah prosesi pengabenan selesai dilanjutkan nganyut ke segara (pantai). Prosesi ngaben tokoh masyarakat Nusa Penida Nengah Setar ini viral di media sosial, dan mendapat berbagai tanggapan dari netizen. Menurut Anak Jro Mangku Nengah Setar, yakni Komang Sumajaya, prosesi upacara ngaben tersebut merupakan wasiat dari ayahnya. "Surat wasiat dari Bapak tertulis di notaris, lembu putih dan lain-lain," ujar Sumajaya.

Mangku Nengah Setar, semasih hidup. –IST
Sedangkan Panitia Upacara Pengabenan, Ida Bhawati Wayan Darsawan mengatakan prosesi pengabenan Mangku Nengah Setar dimulai nanceb taring sejak Anggara Kliwon Kulantir, Selasa 4 Maret 2025. Melaspas taring, Layon rauh saking Denpasar, Buda Umanis Kulantir, Rabu (5/3), nunas tirta jangkep mulai Tirta Kemulan, Tirta Kawitan, Tirta Kahyangan Tiga, Tirta Tungan lan tiosan, Sukra Pon Kulantir, Jumat (7/3).
Selanjutnya Ngelelet/nyiramin layon lan ngajum kajang, layon munggah tumpang salu lan ngaskara, Senin (10/3). Melaspas bade, lembu, layon munggah bade, pengiriman suku tunggal, ngangkid atma wedana, pengiriman puspa atma wedana di segara Desa adat Nyuh Kukuh, Rabu kemarin. Setelah upacara ngaben, akan dilanjutkan dengan ngeroras dan meajar-ajar saat pada saat Purnama Kadasa dan dilanjutkan ngikup saat piodalan Dewa Hyang saat Sugihan Bali.
Untuk diketahui, Mangku Nengah Setar merupakan tokoh Nusa Penida yang berpulang setelah sakit jantungnya kambuh, pada 15 Februari 2025 tepatnya pada pukul 06.00 dinihari setelah sempat dirawat pada salah satu RS di Bali. Jenazah sempat dititipkan di Instalasi pemulasaraan jenazah Rumah Sakit Bali Mandara Denpasar. Almarhum meninggalkan seorang istri, empat anak, tujuh cucu dan tiga anak menantu.
Mangku Nengah Setar asal Banjar Ambengan, Dusun Sebunibus, Desa Sakti ini, semasih hidup sempat mengalami perawatan di beberapa Rumah Sakit di Bali dan Singapura.
Sosok Mangku Nengah Setar dikenal dermawan, semasa hidup almarhum sangat konsen terhadap Pembangunan Klungkung dan Nusa Penida, terlebih di era perkembangan pariwisata saat ini. Almarhum sangat berperan aktif terkait akomodasi pariwisata. Tidak itu saja almarhum juga aktif di bidang sosial keagamaan.
Pria kelahiran 31 Desember 1957 ini kerap melakukan upacara besar di beberapa pura, di bidang sosial almarhum sering berdonasi (mepunia) baik di pura maupun untuk warga yang kurang mampu. Dia juga sempat membagikan puluhan bedah rumah serta menyumbang puluhan hektare tanah sebagai pelaba pura.
Sementara menanggapi upacara pengabenan ini, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali I Nyoman Kenak mengatakan dirinya turut menghadiri langsung upacara pengabenan Jero Mangku Gede Pasek Nengah Setar di Nusa Penida. Menanggapi upacara yang viral di media sosial ini, Kenak menyebut dalam hal ini pihak keluarga tidak sedang menambah-nambahkan sarana upakara ngaben yang lazim berlaku secara umum di Bali. Hal ini mengingat, almarhum memiliki wasiat, dan dinyatakan dalam surat wasiat sehingga harus dilaksanakan oleh para ahli waris.
“Dalam prosesi ngaben itu berjalan sangat khusyuk. Prosesinya sama seperti ngaben pada umumnya. Adanya mobil di dalam sarana upacara merupakan permintaan mendiang yang tertuang dalam surat wasiat. Sehingga ahli waris tidak dalam rangka menambah-nambahkan sarana upacara,” ujar Kenak. Ketua Umum Maha Gotra Pasek Sanak Sapta Rsi ini mengungkapkan berdasarkan penjelasan bendesa, kendaraan tersebut tak sepenuhnya terbakar. Sebelum digunakan dalam pembakaran, tangki mobil sejatinya juga sudah dilepas dan ban digembosi agar tidak membahayakan umat. "Dan mobil juga tidak terbakar semua. Dan kondisinya masih bagus," imbuhnya.
Kenak menyebut almarhum Jero Mangku Gede Pasek Nengah Setar dikenal sebagai sosok yang dermawan dan rendah hati semasa hidupnya. Bahkan dia menghibahkan beberapa bidang tanah miliknya untuk pembangunan pura. Usai upacara, kata Kenak, mobil yang digunakan dalam upacara juga dihibahkan kepada desa adat. "Ada dua mobil, satu untuk lembu dan satu untuk wadah. Dan kedua mobil baru itu diserahkan kepada desa adat," ungkap Kenak. 7 wan, adi