Ogoh-Ogoh ‘Seleye’ ST Dharma Shanti Banjar Biaung: Kritik Sosial dalam Seni Budaya

13 hours ago 2
ARTICLE AD BOX
Ketua ST Dharma Shanti, I Wayan Widi Mastawan atau yang akrab disapa Bolang, mengungkapkan rasa bangganya atas karya yang telah mereka hasilkan. 

Tema "Seleye" diambil dari kata "soleh" atau "aneh" dalam bahasa Bali. Konsep ini menggambarkan kondisi pemimpin yang sering kali diabaikan oleh rakyatnya. Padahal, seorang pemimpin memiliki tujuan dan visi yang baik, namun kerap mendapat penolakan dari oknum-oknum yang tidak menyukai kebijakannya.

“Dalam ogoh-ogoh ini, tokoh utama adalah Jro Kelian (prajuru banjar) yang mewakili sosok pemimpin. Sementara itu, dua tokoh warga digambarkan memiliki pikiran yang bertolak belakang dengan pemimpin, selalu menentang dan tidak menghargai arahan yang diberikan,” jelas Bolang.

Di bagian atas ogoh-ogoh, terdapat sosok raksasa yang melambangkan kewibawaan serta status seorang pemimpin. Figur ini menunjukkan bahwa seorang pemimpin harus memiliki jiwa besar, wawasan luas, serta pengalaman dalam menghadapi berbagai persoalan seperti ekonomi, sosial budaya, politik, dan adat istiadat.

Anggaran dan Tantangan dalam Pembuatan

Ogoh-ogoh "Seleye" dibuat dengan anggaran sebesar Rp45 juta. Dengan konsep yang mendalam dan detail, pembuatan ogoh-ogoh ini menjadi tantangan tersendiri bagi ST Dharma Shanti. 

Bolang berharap pesan dari ogoh-ogoh "Seleye" dapat tersampaikan kepada masyarakat, terutama dalam memahami makna kepemimpinan. Ia mengajak masyarakat Bali agar tidak mudah terpengaruh oleh provokasi yang dapat merusak persatuan dan keharmonisan.

“Harapan kami, pesan dari ogoh-ogoh ini dapat membuka pandangan masyarakat agar lebih bijak dalam menyikapi kepemimpinan. Semoga Tahun Baru Caka 1947 membawa ketertiban dan kedamaian bagi kita semua,” tutupnya. *m03

Read Entire Article