ARTICLE AD BOX
Permohonan maaf ini disampaikan Kedux menyusul garapan ogoh-ogoh Bhuta Ngawesari untuk menyambut Tahun Baru 1947 Saka, tahun 2025 ini, dinilai tidak sesuai ekspektasi. Hasil final yang ditampilkan Kedux dan ST Yowana Saka Bhuwana (STYSB) juga dinilai belum sempurna.
Alih-alih mencari pembenaran atas kritikan pecinta ogoh-ogoh, Kedux memilih merendah dan mengakui kekurangannya. Pernyataan permakluman Kedux berhasil diterima NusaBali.com usai Bhuta Ngawesari mentas di Catur Muka, Denpasar, Sabtu (29/3/2025) dini hari.
“Kirang langkung, untuk ogoh-ogoh kali ini banyak sekali trouble-nya. Kami dari STYSB memohon maaf untuk karya kami di tahun ini yang kurang maksimal,” ujar Kedux.
Permohonan maaf Kedux kepada masyarakat Bali, khususnya para pecinta ogoh-ogoh, kembali dipertegas lewat surat STYSB, Minggu (30/3/2025). Surat bertanda tangan Kedux dan Ketua STYSB Komang Angga Natyalaksana tersebut, merinci alasan di balik penggarapan yang kurang maksimal.
Faktor pengelolaan waktu, pekerjaan, personel, hingga keuangan diklaim menjadi penyebab Bhuta Ngawesari belum dapat digarap sempurna. Diakui pula, garapan ogoh-ogoh yang terinspirasi dari patung dwarapala penjaga tempat suci ini belum dapat memuaskan dari segi estetika dan gerakan mekanisnya.
Kedux dan STYSB mengatakan bahwa mereka secara terbuka menerima kritik dan saran dari masyarakat Bali. Sang maestro dan sekaa teruna inovator penggarapan ogoh-ogoh di Bali ini mengaku akan tampil dengan karya yang lebih baik di perayaan Hari Suci Nyepi 1948 Saka, tahun 2026 mendatang.
“Kami akan ulang lagi di kesempatan tahun depan. Suksma support-nya,” beber Kedux yang tampak sudah payah setelah ‘mengeroyok’ penggarapan Bhuta Ngawesari sampai hari H pangerupukan.
Lika-liku yang dilalui Kedux dan STYSB selama penggarapan Bhuta Ngawesari sampai berhasil dipentaskan di titik nol Kota Denpasar tidaklah mudah. Pantauan Tim NusaBali.com di lapangan, Bhuta Ngawesari masih digarap habis-habisan hingga hari pengerupukan malam.
Ogoh-ogoh Bhuta Ngawesari akhirnya berhasil diselesaikan, meski dianggap tidak maksimal, Jumat pukul 22.00 WITA. Lantas, Bhuta Ngawesari keluar dari ‘istananya’ di Balai Banjar Tainsiat, Jalan Nangka Selatan Nomor 1, Denpasar menuju Catur Muka pada Sabtu pukul 00.45 WITA.
Bhuta Ngawesari akhirnya berhasil menari di hadapan warga kota yang telah menanti karya Kedux dan STYSB ini, Sabtu sekitar pukul 04.00 WITA. Ribuan warga yang masih bertahan di Catur Muka tidak lupa mengabadikan Bhuta Ngawesari menari-menari lewat sentuhan teknologi yang dibawa.
Gerakan mekanis Bhuta Ngawesari tampak lebih detail dari karya Kedux di tahun-tahun sebelumnya. Detail gerak ini khususnya pada bagian lengan kanan dan jari tangan kiri. Lengan kanan bergerak seperti memercikkan tirta, sedangkan jari-jari tangan kiri bergerak-gerak dengan detail.
Berdasarkan penelusuran NusaBali.com, proses penggarapan gerakan ini, terutama gerakan pada jari-jari, memerlukan try and error yang tidak sedikit. Kemudian, untuk menyempurnakan gerakan tersebut memakan waktu yang tidak sebentar, berhari-hari.
Sementara itu, fenomena penggarapan ogoh-ogoh sampai hari H pangerupukan bukanlah hal baru bagi Kedux dan STYSB. Setidaknya, di dua tahun sebelumnya, hal serupa sudah menjadi pemandangan biasa di Banjar Tainsiat.
Akan tetapi, hasil final garapan ogoh-ogoh Bhuta Ngawesari yang dianggap belum maksimal atau kurang dibanding garapan tahun sebelumnya, menjadi catatan warganet dan pecinta ogoh-ogoh tahun ini. *rat
Alih-alih mencari pembenaran atas kritikan pecinta ogoh-ogoh, Kedux memilih merendah dan mengakui kekurangannya. Pernyataan permakluman Kedux berhasil diterima NusaBali.com usai Bhuta Ngawesari mentas di Catur Muka, Denpasar, Sabtu (29/3/2025) dini hari.
“Kirang langkung, untuk ogoh-ogoh kali ini banyak sekali trouble-nya. Kami dari STYSB memohon maaf untuk karya kami di tahun ini yang kurang maksimal,” ujar Kedux.
Permohonan maaf Kedux kepada masyarakat Bali, khususnya para pecinta ogoh-ogoh, kembali dipertegas lewat surat STYSB, Minggu (30/3/2025). Surat bertanda tangan Kedux dan Ketua STYSB Komang Angga Natyalaksana tersebut, merinci alasan di balik penggarapan yang kurang maksimal.
Faktor pengelolaan waktu, pekerjaan, personel, hingga keuangan diklaim menjadi penyebab Bhuta Ngawesari belum dapat digarap sempurna. Diakui pula, garapan ogoh-ogoh yang terinspirasi dari patung dwarapala penjaga tempat suci ini belum dapat memuaskan dari segi estetika dan gerakan mekanisnya.
Kedux dan STYSB mengatakan bahwa mereka secara terbuka menerima kritik dan saran dari masyarakat Bali. Sang maestro dan sekaa teruna inovator penggarapan ogoh-ogoh di Bali ini mengaku akan tampil dengan karya yang lebih baik di perayaan Hari Suci Nyepi 1948 Saka, tahun 2026 mendatang.
“Kami akan ulang lagi di kesempatan tahun depan. Suksma support-nya,” beber Kedux yang tampak sudah payah setelah ‘mengeroyok’ penggarapan Bhuta Ngawesari sampai hari H pangerupukan.
Lika-liku yang dilalui Kedux dan STYSB selama penggarapan Bhuta Ngawesari sampai berhasil dipentaskan di titik nol Kota Denpasar tidaklah mudah. Pantauan Tim NusaBali.com di lapangan, Bhuta Ngawesari masih digarap habis-habisan hingga hari pengerupukan malam.
Ogoh-ogoh Bhuta Ngawesari akhirnya berhasil diselesaikan, meski dianggap tidak maksimal, Jumat pukul 22.00 WITA. Lantas, Bhuta Ngawesari keluar dari ‘istananya’ di Balai Banjar Tainsiat, Jalan Nangka Selatan Nomor 1, Denpasar menuju Catur Muka pada Sabtu pukul 00.45 WITA.
Bhuta Ngawesari akhirnya berhasil menari di hadapan warga kota yang telah menanti karya Kedux dan STYSB ini, Sabtu sekitar pukul 04.00 WITA. Ribuan warga yang masih bertahan di Catur Muka tidak lupa mengabadikan Bhuta Ngawesari menari-menari lewat sentuhan teknologi yang dibawa.
Gerakan mekanis Bhuta Ngawesari tampak lebih detail dari karya Kedux di tahun-tahun sebelumnya. Detail gerak ini khususnya pada bagian lengan kanan dan jari tangan kiri. Lengan kanan bergerak seperti memercikkan tirta, sedangkan jari-jari tangan kiri bergerak-gerak dengan detail.
Berdasarkan penelusuran NusaBali.com, proses penggarapan gerakan ini, terutama gerakan pada jari-jari, memerlukan try and error yang tidak sedikit. Kemudian, untuk menyempurnakan gerakan tersebut memakan waktu yang tidak sebentar, berhari-hari.
Sementara itu, fenomena penggarapan ogoh-ogoh sampai hari H pangerupukan bukanlah hal baru bagi Kedux dan STYSB. Setidaknya, di dua tahun sebelumnya, hal serupa sudah menjadi pemandangan biasa di Banjar Tainsiat.
Akan tetapi, hasil final garapan ogoh-ogoh Bhuta Ngawesari yang dianggap belum maksimal atau kurang dibanding garapan tahun sebelumnya, menjadi catatan warganet dan pecinta ogoh-ogoh tahun ini. *rat