ARTICLE AD BOX
SINGARAJA, NusaBali
Keluarga besar Kadek Melly Mudiani,23, warga Banjar Dinas Kanginan, Desa Bontihing, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng terus berdoa agar jenazah putri kebanggaannya bisa segera tiba di Bali. Hingga Kamis (3/4), keluarga belum mendapat kepastian pemulangan jenazah. Peristiwa kecelakaan lalu lintas yang dialami Kadek Melly di New Orleans, Negara Bagian Louisiana, Amerika Serikat, Sabtu (29/3) lalu sedang dalam tahap penyelidikan.
Ayah Melly, Ketut Wandika,53, ditemui di rumah duka mengatakan sudah mengupayakan berbagai cara untuk mencari kejelasan kabar anak keduanya itu. Terakhir pihak keluarga dihubungkan agen dengan FBI dan pengacara Melly di Amerika pada Kamis subuh. Hasil komunikasi selama 3 jam penuh, FBI maupun pengacara hanya memberikan estimasi kepulangan 7-10 hari ke depan.
“Saat ini Melly dan temannya yang terlibat kecelakaan sedang ditangani FBI, tidak boleh dijenguk siapapun. Sampai hari ini saya selaku orang tua belum bisa melihat seperti apa Melly di sana. Saya juga sempat tanyakan kepastian kapan bisa pulang, karena terkait waktu upacara, tetapi mereka hanya memberikan estimasi tidak berani memastikan,” ucap Wandika.
Awal mendengar kabar duka itu Wandika dan istrinya Komang Sudarmi sempat tidak percaya bahwa itu adalah anak kebanggaan mereka. Hingga akhirnya tim medis dan FBI membuka tas yang melekat di tubuh korban kecelakaan. Di dalam tas ditemukan paspor milik Melly, kartu ATM dan juga sejumlah uang tunai. Seluruh barang Melly itu pun ditunjukkan ke keluarga melalui komunikasi pada, Kamis subuh kemarin.
Pihak keluarga juga sudah membangun komunikasi dengan Pekerja Migran Indonesia (PMI) di AS yang ingin membantu mengumpulkan donasi untuk biaya pemulangan jenazah Melly lebih cepat. Sebab jika mengikuti prosedur klaim asuransi jiwa, memerlukan waktu 2-3 bulan. Wandika menceritakan anak gadisnya itu memutuskan untuk mengikuti program magang di sebuah restoran di Amerika Serikat. Melly berangkat ke AS melalui agen keberangkatan secara pribadi pada tanggal 27 November 2024. Alumni Elizabeth International Bali ini terakhir kali berkomunikasi dengan keluarganya, Jumat (28/3) lalu.
“Saat hari Pangrupukan itu dia sempat telepon malem, minta video parade ogoh-ogoh di Bontihing dan yang di Denpasar. Ya sempat membahas tentang parade ogoh-ogoh,” kata Wandika. Melly dikenang keluarganya sebagai anak yang mandiri dan punya cita-cita tinggi. Sebelum memutuskan untuk mengikuti program magang di AS, Melly sempat mendapatkan program beasiswa pertukaran mahasiswa di AS saat masih menempuh kuliah. Namun karena saat itu masih Pandemi Covid-19 keberangkatannya dibatalkan saat H-3.
Anak kedua dari tiga bersaudara ini yang telah memantapkan kariernya di bidang pariwisata pun setelah dua tahun tamat program D2 Pariwisata meminta izin untuk mengikuti program magang secara mandiri kepada orang tuanya. Wandika dan Sudarmi memberikan dukungan dan restu penuh kepada anaknya untuk memilih jalan kariernya sendiri.
“Dulu saat kuliah Melly training di Hotel Trans dan setelah tamat sempat bekerja di sana. Kemarin saat akan berangkat ke AS dilarang berhenti oleh HRD dan teman-temannya di sana, tetapi dia tetap mau berangkat, katanya mau cari pengalaman,” tutur pria 53 tahun ini. Selama empat bulan di AS, Melly bercerita kepada keluarganya sudah sangat nyaman dan betah. Dia yang rencananya mengikuti program magang 1 tahun sudah menyiapkan rencana lanjutan. Ada dua rencana yang Melly paparkan kepada orang tuanya, yakni memperpanjang izin tinggal dan bekerja di Amerika Serikat atau bekerja sambil kuliah di Australia. Rencana hijrah ke Australia agar bisa kuliah sambil kerja, tanpa membebani orang tua.
“Melly berpandangan tidak ingin selamanya jadi imigran, dia ingin mengejar karier di luar negeri dulu, setelah ada pengalaman dan prestasi, berharap perusahaan di Bali ada yang meliriknya. Cita-citanya agar tidak menjadi karyawan biasa, minimal bisa memegang jabatan yang bisa mengendalikan perusahaan, itu yang buat saya haru dan bangga,” kata Wandika. Sementara itu, Bupati Buleleng dr I Nyoman Sutjidra bersama sejumlah pejabat terkait melayat langsung ke rumah duka. Sutjidra pun berjanji akan membantu mengkomunikasikan dengan kedutaan di Amerika Serikat untuk memastikan kepulangan jenazah Melly.

Bupati Buleleng dr I Nyoman Sutjidra (kanan) saat melayat ke rumah duka Kadek Melly. –LILIK
“Kami upayakan juga komunikasi dengan agen dan pengacara untuk membantu mengurus administrasinya, mudah-mudahan segera bisa dipulangkan,” ungkap Sutjidra yang juga warga asal Desa Bontihing, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng, Kamis kemarin.
Seperti diberitakan Kadek Melly Mudiani,23, asal Banjar Dinas Kanginan, Desa Bontihing, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng dinyatakan meninggal dunia di Amerika Serikat (AS). Melly dinyatakan meninggal dunia di tempat sesaat setelah mengalami kecelakaan lalu lintas di New Orleans, Louisiana, AS pada Sabtu (29/3) lalu sekitar pukul 06.19 waktu setempat.
Berita duka ini pun viral di media sosial setelah diposting pemilik akun Eddie Suartana, Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Buleleng yang bekerja di Amerika Serikat. Eddie dalam postingannya menginformasikan bahwa korban Kadek Melly, sudah tiba di Amerika Serikat sejak 3 bulan yang lalu karena mengikuti program J1 (magang dan pertukaran budaya).
Pasca kejadian ini, jenazah Kadek Melly saat ini sedang berada di medical examiner office (forensik RS setempat) sembari menunggu proses pemulangan ke Bali. Pihak keluarga dan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Houston hingga sponsor dan agen pemberangkatannya di Bali sudah dihubungi. Eddie pun sempat ingin membuka donasi untuk membantu pemulangan jenazah Kadek Melly, sebab sesuai prosedur klaim asuransi pemulangan jenazah baru bisa terealisasi 2-3 bulan. Hanya saja tidak berselang lama postingan Eddie hilang, karena ada yang melaporkan sebagai penipuan.

Kadek Melly Mudiani, semasa hidupnya. –IST
“Yang bersangkutan dari Bontihing, saya hanya berniat membantu agar jenazahnya segera bisa dipulangkan. Tetapi mohon maaf saya belum bisa wawancara masih menunggu klarifikasi keluarganya,” terang Eddie melalui chat facebook, Rabu (2/4). 7 k23