ARTICLE AD BOX
“Jika dibandingkan dengan Januari–Februari tahun lalu, kunjungan wisatawan meningkat. Tahun lalu tercatat 1.568.564 wisatawan, sementara pada tahun ini jumlahnya mencapai 1.501.273 orang. Meski ada kenaikan sekitar 90 ribu orang, namun ekspektasi awal kami lebih tinggi dari ini,” ujar Cok Ace dalam sebuah diskusi di Denpasar, pekan lalu.
Ia menjelaskan bahwa pergeseran waktu perayaan Tahun Baru Imlek turut memengaruhi pola kunjungan wisatawan. “Biasanya peningkatan signifikan terjadi di bulan Februari, tetapi tahun ini justru terjadi di Januari karena Imlek jatuh pada bulan tersebut. Akibatnya, Februari tidak mengalami lonjakan seperti tahun sebelumnya,” jelasnya.
Lebih lanjut, Cok Ace menyoroti bahwa libur Nyepi juga berdampak pada arus wisatawan domestik. “Wisatawan domestik cenderung menghindari Bali saat Nyepi karena tidak ada aktivitas yang bisa dilakukan. Harapannya setelah Nyepi, sisa libur Lebaran bisa mendongkrak jumlah kunjungan lagi,” tambahnya.
Sementara itu, kebijakan pemerintah terkait pelarangan Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE) di Bali disebut belum memberikan dampak langsung. “Saat ini memang belum ada booking besar untuk MICE di Bali, terutama pada periode Januari hingga Maret. Biasanya acara MICE puncaknya terjadi di bulan November,” jelasnya.
Cok Ace juga mengungkapkan bahwa perjalanan dinas perseorangan mengalami penurunan drastis. “Kalau kita lihat dari penerbangan, kelas bisnis nyaris kosong. Artinya, jumlah pengusaha dan pejabat yang datang ke Bali jauh berkurang,” katanya.
Di sisi lain, kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) justru menunjukkan tren positif. “Berdasarkan data, jumlah wisman Januari–Februari 2024 tercatat sebanyak 874.838 orang. Sementara itu, data yang dihimpun dari imigrasi menunjukkan bahwa jumlah wisman yang masuk pada periode yang sama tahun ini meningkat hampir dua kali lipat,” ujarnya.
Namun, Cok Ace mempertanyakan distribusi wisatawan tersebut karena tingkat hunian hotel dinilai tidak meningkat secara signifikan. “Ada indikasi banyaknya hotel dan vila baru yang tidak tercatat secara resmi, sehingga perputaran ekonomi tidak maksimal di sektor formal,” ungkapnya.
Dengan kondisi ini, PHRI Bali terus berupaya menyesuaikan strategi agar sektor pariwisata tetap bertumbuh secara optimal, terutama dalam menghadapi tantangan perubahan pola kunjungan wisatawan ke Pulau Dewata.