ARTICLE AD BOX
Salah satu peziarah, Putu Mita Oktaviari (30), mengungkapkan bahwa ziarah ke makam keluarga Muslimnya sudah menjadi rutinitas tahunan. Keluarganya memiliki garis keturunan yang beragam, baik Hindu maupun Muslim, yang telah lama merantau dan menetap di Bali.
"Kami Hindu, tapi tetap menjaga toleransi meski berbeda agama. Apalagi, ziarah ini sudah menjadi kebiasaan keluarga setiap Lebaran," ujar Putu Mita saat ditemui di lokasi, Senin (31/3/2025).
Putu Mita datang bersama puluhan anggota keluarga besarnya dari berbagai daerah seperti Klungkung, Gianyar, dan Singaraja. Mereka berkumpul di pemakaman sekitar pukul 09.30 WITA untuk membersihkan makam, menabur bunga, serta bergantian memanjatkan doa bagi leluhur mereka.
Berbeda dengan Putu Mita, peziarah lain bernama Fala (40) memiliki cerita tersendiri. Ia lahir sebagai Muslim, namun kini memeluk agama Hindu setelah menikah dengan suaminya. Meski demikian, ia tetap menjalankan tradisi ziarah untuk mendoakan mendiang ibunya yang telah wafat sebelas tahun lalu.
"Saya tetap menjalani tradisi ini untuk mengenang ibu. Menabur bunga juga menjadi cara saya menjaga keindahan pusara beliau," kata Fala yang datang bersama kedua mertuanya.
Sekretaris Pemakaman Muslim Wanasari, Ahmad Tosan, mengatakan tradisi ziarah sudah berlangsung sejak lama. Pemakaman yang berdiri sejak 1811 ini mulai ramai didatangi peziarah sejak sebelum Ramadan hingga beberapa hari menjelang Idulfitri.
"Ziarah atau tabur bunga memang menjadi tradisi umat Muslim di Indonesia. Peziarah yang datang ke sini tidak hanya dari Denpasar, tetapi juga dari berbagai kabupaten lain, termasuk semeton Hindu Bali yang memiliki keluarga Muslim," ujarnya.
Hubungan erat antarumat beragama di Bali tercermin dalam tradisi ini, di mana keluarga dengan latar belakang agama berbeda tetap menjaga kebersamaan dan menghormati leluhur mereka.
Sekretaris Pemakaman Muslim Wanasari Ahmad Tosan mengatakan tradisi ziarah adalah kebiasaan yang memang terbentuk sejak lama, dimana pemakaman Muslim di pusat Kota Denpasar ini sudah mulai didatangi peziarah sejak sebelum puasa dan H-3 Idulfitri.
Umumnya umat Muslim mengunjungi makam keluarganya untuk memberi doa, namun mengingat sejarah makam yang ada sejak lama dan kuatnya hubungan antar-umat di Bali, tak jarang masyarakat beragama lain dengan keluarga yang heterogen datang.
"Ziarah atau tabur bunga sudah menjadi tradisi orang Indonesia, khususnya umat Muslim, peziarah ini sudah mulai ramai sejak hari Senin (24/2) sebelum puasa, mereka yang datang tidak hanya dari Denpasar saja, tapi dari luar kabupaten juga ke sini serta semeton Hindu Bali," terang Ahmad Tosan. *ant